Ciwidey (lanjutan)

•April 30, 2009 • Leave a Comment

Sarapan murah meriah

Sarapan murah meriah

Hari itu kita mesti bangun pagi, karena kita sudah janjian dengan mas Agus agar diantar ke kebun strawberry. Semalam ternyata belum seberapa dingin dibandingkan dengan pagi ini. Gigi kita beradu, meminjam istilahnya Atiek, gigi kita seperti menjahit. Kita malas-malasan bangun, bersembunyi dalam selimut. Tapi pagi itu sangat sayang untuk dilewatkan. Sinar matahari pagi menyilaukan, tapi udaranya masih dingin. Sssstt…. kita beneran ga mandi loh. Sambil menunggu jemputan mas Agus, kita sarapan gorengan. Enak… beda ama gorengan di kota. Kita habis lima potong, tiga teh manis dan coba tebak, total berapa rupiah? Cukup enam ribu rupiah, murah meriah kan??

Pagi itu kita menjadi pengunjung pertama di kebun strawberry. Ibu yang menjaga kebun malah belum bersiap-siap. Baru jam 07.00 pagi, ya iyalah… Pagi itu pemandangan di lereng perbukitan Ciwidey sangat indah. Sinar matahari pagi membiaskan embun-embun, membuatku tak mau melepaskan pandangan. Semburat emas menutupi perbukitan.

Mba Gama langsung kalap ingin memetik begitu melihat buah strawberry yang ranum kemerahan. Dari kita bertiga, dia yang paling semangat. Sayang, pagi itu Atiek dapat telpon dari kantornya. Ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang berhubungan dengan print out. Seperti yang bisa dibayangkan, hasil petikan mba Gama yang paling banyak. Dari kita bertiga terkumpul 1,5 kg. Satu kg-nya Rp 30.000. Mahal memang dibandingkan di tempat lain. Dengan Rp 10.000 kita bisa saja dapat 1 kg. Tapi lebih puas kalau bisa memilih dan memetik sendiri.

                Pukul 07.30. Dari kebun strawberry, perjalanan kita teruskan ke kolam pemandian air panas di Cimanggu. Beberapa km lebih jauh dari kawah putih. Ongkosnya cukup Rp 2.500 per orang. Masih sepi, kita berharap belum banyak pengunjung, sehingga kita dapat berendam sepuasnya. Secara kita belum mandi dari kemarin sore. Ongkos masuknya Rp 6.500 per orang. Selain kolam, di tempat itu juga disediakan cottage, flying fox dan out bond. Kolam air panasnya sendiri ada tiga dengan tingkat kedalaman yang berbeda-beda. Buat mereka yang menghendaki privasi, disediakan juga pemandian tertutup, bentuknya seperti kamar mandi dengan bath up. Suasananya agak suram. Tiap orang dikenai Rp 5.500. Kolamnya berwarna hijau dan tidak terlalu hangat juga. Sepertinya bukan karena kolamnya ditumbuhi lumut, tapi memang airnya yang berwarna hijau. Kondisi ini membuat kita malas nyemplung. Kita cuma memasukkan kaki. Setitik kehangatan di dinginnya ketinggian Cimanggu. Alasan lainnya, kita melihat ada beberapa anak yang mandi di kolam itu. Mandi dan keramas lebih tepatnya. Tapi lebih realnya, who knows??

Letsgokemon... kita habiskan strawberry-nya

Letsgokemon... kita habiskan strawberry-nya

 

Setelah puas onkang-onkang kaki selama kurang lebih satu jam, dan jepret sana sini, akhirnya kita meneruskan perjalanan. Kita sepakat untuk kembali mengunjungi kawah putih. Dari Cimanggu ke kawah putih kita hanya perlu membayar angkot Rp 1.000 per orang. Seperti biasa di depan papan nama, kita bernasis-nasis sedikit. Action…

@ Kolam Cimanggu

@ Kolam Cimanggu

Kita bertiga bertanya-tanya, akankah kita bertemu kembali dengan mas Agus? Dan ternyata iya, masih dengan kaca matanya yang keren abitz itu

. Kita mesti bersabar menunggu rombongan lain hingga mencapai 14 orang untuk menghemat ongkos ke atas. Kalau mencharter mobil, biayanya Rp 100.000. Mahal. Kalau naik ojek, pulang pergi biayanya Rp 25.000, tiga orang jadi Rp 75.000. Mahal. Dasar backpacker kere…….

Ada serombongan ibu-ibu, sepertinya ibu-ibu dari majelis taklim. Subhanalllah, mereka memutuskan jalan kaki ke atas. Kita yang masih muda-muda, dibuatnya malu. Tapi kog lama ya nunggu yang lain…. ?

Hampir setengah jam kita menunggu, sampai-sampai semua sopir dan ojek di tempat itu mengenali kita. Akhirnya kita menyerah. Kita nekat mau nebeng mobil saja. Jurus terakhir, muka tebal. Semua mobil yang lewat selalu penuh. Hmmm… bersabar. Kita melihat ada elf yang parkir. Tapi penumpangnya malah ke toilet. Jangan-jangan mereka cuma numpang buat pipis. Daripada kelamaan, mending kita yang jemput bola dan bertanya.

Malu bertanya, sesat, eh ga dapat jalan. Akhirnya kita dapat tempat di elf tersebut. Isinya bapak-bapak semua. Mereka begitu baik memberi tempat buat kita di kursi belakang. Mereka orang Jakarta juga, orang Kelapa gading yang sedang merayakan berakhirnya masa jabatan ketua RW. Alhamdulillah, kali ini kita dapat gratisan.

Kita sampai di kawah putih jam 09.00. Masih sepi dan mentari sedang terik-teriknya. Mba Gama ga berhenti berhenti mengambil gambar, tentunya aku dan Atiek yang menjadi objeknya. Tapi aku sedang tidak ingin difoto. Yang kuinginkan hanyalah duduk memandangi keindahan sekeliling untuk selamanya kurekam dalam benak. Meresapi setiap sentuhan-Nya di muka bumi. Dan keindahan itu ada.

Jam 11.00, waktunya kita bergegas pulang. Tapi sebelumnya kita menikmati jagung bakar yang belum sempet dilakukan semalem. Bonusnya satay strawberry lapis coklat. So yummy…. Setelah kenyang, kita bingung. Loh… ??? Iya, bingung gimana caranya turun. Semua angkot sudah penuh dengan penumpang. Mau bareng dengan elf tadi, kayaknya ga deh. Malu lah…. Sampai kapan ya? pasti waktu itu wajah kita memeas banget. Alhamdulillah, kita dapat tumpangan angkot ke bawah. Awalnya bapak sopir meminta bayaran Rp 10.000 per orang. Tapi kita berhasil nego Rp20.000 untuk tiga orang. “Mangga atuh neng…” kata sopirnya. Sip lah pak… kita bertiga langsung meloncat masuk. Tapi busyet dah… bapaknya ngebawain angkotnya ga aturan. Kita bertiga di belakang terpental ke sana-kemari. Tiap orang mencari pegangan sendiri-sendiri. Seperti off road aja. Ya mo gimana lagi… kita juga bayarnya separuh harga. Jadi keselamatan juga dihargai separuh. Truly backpacker lah….

Begini gayanya...

Begini gayanya...

Alhamdulillah kita sampai di bawah dengan utuh. Tapi Atiek merasa agak pening. Tapi memang sudah waktunya makan siang. Sepertinya siomay atau batagor enak juga. Sekedar pengganjal perut. Setelah kenyang, kita menunggu kembali angkot kuning kesayangan yang akan mengantar kita sampai ke terminal Ciwidey.

Pulangnya ke Bandung kita naik bus, soalnya elfnya belum ada. Kulihat jam, sudah jam 12.30. Kalau kata anak kemarin benar, jangan-jangan kita sampai di Bandung jam 15.30. lama pisan… Tapi mau gimana lagi?? Apakah ada pilihan lain. Oh iya, ongkosnya Rp 5.000 per orang. Siang itu sangat panas dan bus penuh sesak. Duduk kita terpisah. Namun demikian, kantuk itu tetap menyerang. Di tengah teriknya matahari dan keringat yang bercucuran di punggung, aku jatuh terlelap. Sewaktu bangun, ternyata sudah sampai Soreang. Berarti sudah deket Bandung.

Kita sampai di terminal Leuwi Panjang jam dua lewat. Berarti tidak terlalu lama juga. Segera kita mencari mushola untuk sholat. Mushola yang ini lebih mendingan daripada yang kemarin. Setelah membeli oleh-oleh, kita langsung mencari bus MGI, jurusan bandung Depok. Alhamdulillah kita tidak perlu menunggu lama, karena busnya sudah penuh. Sekali lagi kita terpisah. Ternyata permasalahan di kantor Atiek belum kelar. Sepanjang perjalanan di bus dia terus menelpon. Sedangkan aku…. tidur lagi. Dasar pelor, wekekekkkeee… Enak juga naik bus MGI. Dengan membayar Rp 45.000 kita bisa turun di kolong, trus tinggal jalan atau naik angkot sebentar, sampailah di Mekar 22. Dan di sinilah perjalanan ini berakhir.

We were there

We were there

Capek sih… tapi a lot of fun. So… what is the next destination? Route 1 : accomplished. We are ready for more adventurous backpacker.

Ciwidey

•April 30, 2009 • 1 Comment

Yiiipie…. akhirnya kesampaian juga kita untuk backpacker ke Kawah Putih Ciwidey.

Awalnya kita pesimis, soalnya hingga Sabtu jam 1 dini hari, Atiek belum juga pulang. Rencananya kita berangkat jam 5 subuh. Tapi Atiek baru dateng jam 4, begitu juga dengan mba Gama yang baru bisa tidur jam 4, gara-gara malamnya minum kopi.

Akhirnya kita start dari kosan jam 8 lewat. Bus yang kita tunggu-tunggu di jalan baru tidak juga nongol. Setelah nunggu kurang lebih 30 menit, bus patas AC jurusan Bandung-Jakarta muncul. Tapi bus kita ga langsung masuk tol Cikunir, tapi belok dulu ke UKI untuk mencari penumpang. Alhamdulillah busnya penuh, sampai-sampai ada yang duduk di belakang kursi paling belakang. Jam udah nunjukkin 8.40; Bandung, here we come….. Atiek dan mba Gama meneruskan tidur mereka yang terpotong. “Dah sampai mana?” tanya Atiek. “Baru sampai km 81″ jawabku. “Apaaa……?? perasaan dah lama banget” katanya. “Busnya ini lho… ga jalan tapi merayap. Paling-paling jalan 20 km/jam” terang mba Gama. Alamak… kapan sampai Bandungnya.

Melanjutkan tidur

Melanjutkan tidur

Sampailah kita di kota dingin Bandung tercinta. Dingin gimana? Bandung sekarang panas terik, ga beda jauh sama Jakarta. Karena dah laper, waktunya makan siang, kita langsung menuju rumah makan Ampera di depan terminal Leuwi panjang. Mba Gama lagi ngidam karedok. Tapi sayang, hari itu bukan hari keberuntungannya. Silahkan datang lain kali untuk menikmati karedok kami…. hehehe.

Abis makan, waktunya kita sholat. Meskipun rakyat Indonesia mayoritas muslim, tapi suusah menemukan masjid atau mushola di tempat umum. Konidisinya juga sangat memperihatinkan. Baunya yang menyengat dan tempatnya yang kumuh, membuat orang susah untuk khusuk sembahyang. Lega rasanya kalau sudah sholat, dan kita meneruskan perjalanan menuju ciwidey. Long way to go….

Sesuai petunjuk mbah google, dari Bandung menuju Ciwidey dapat ditempuh melalui bus Damri. “Itu Damri-nya?” tanya Atiek. “Haaaa….? Kirain kayak bus Damri ke bandara” sambungnya. “Beda neng… yang ini lebih ekonomis, cukup 1.600 saja ongkosnya” terangku. Tapi mana yang jurusan ke Ciwidey. Karena mengalami kebuntuan, akhirnya kita bertanya ke pedagang es cingcau deket situ. “Teu aya teh… bus damri ke Ciwidey. Adanya mah bus kota. Tapi lama. Kalo mau naik elf aja” terang pemuda yang lagi nikmati es cingcau. Ternyata, anak itu adalah calo bus elf. “Ntar lama nunggu sampai penuh?” tanya mba Gama. “Engga neng.. ini mah tinggal dikit lagi terus berangkat” jawab calo itu. “Lama ga?” sambung mba Gama. “Paling 1 – 1,5 jam. Kalo naik bus mah.. lebih lama, soalnya sering berhentinya” terangnya. Kita bertiga bertatapan mata, dan sepakat untuk naik elf saja. Salah satu bentuk interaksi yang efisien hasil pelatihan selama kurang lebih setahun belakangan ini, hihihi.

Otw ke Ciwidey

Otw ke Ciwidey

Jam 13.00 kita start dari terminal Leuwi Panjang. Duduk berdempetan bertiga di bagian belakang elf ternyata tidak begitu menyeramkan. “Katanya temenku, sepanjang perjalanan ke Ciwidey, pemandangannya bagus. Mana ini.. mana ini?” protes Atiek. “Ya belum kali neng.. Ini mah masih di Bandung”balasku. Lama kemudian, pemandangan sawah menghijau mulai keliatan, dan udara polusi knalpot kendaraan mulai digantikan oleh udara sejuk pedesaan. Udara ini membius kita bertiga. Satu persatu kita jatuh tertidur.

“Neng.. neng.. bangun neng. Udah sampai terminal Ciwidey” kata ibu-ibu di sebelahku. Aku langsung bangun terkaget. Lhoo… Untung ibu-ibu itu baik, mau bangunin. “Neng.. bayar dulu neng” tagih si kenek. Kita kelupaan belum bayar. Satu orang Rp 6.000 , tiga orang Rp 18.000. Klo dikasih Rp 20.000 berarti kembali Rp 2.000. Tapi ama bapaknya ga dikembaliin. Kita juga masih jet lag untuk berpikir untuk menagih.

Haaa… ? Dah jam 14.30? Lama juga. Dari situ kita langsung naik angkot warna kuning ke kawah putih. Ongkosnya Rp 7.000 per orang. Lebih mahal ya? Emang, tapi worthy, soalnya sepanjang jalan pemandangannya.. subhanallah… indah banget. Di kanan kiri kebun strowbery, tapi kita mesti bersabar sampai besok. Jadi pingin buru-buru sampai ke kawah putih.

Akhirnya sampai juga di kawah putih jam 15.00. Kita hampir saja tertipu. Sama sopir angkot, kita ditawarin charter angkot Rp 150.000 sampai di atas. Sekalian bea masuk Rp 10.000 per orang. Haaa… ? mahal amat. Katanya jam segitu susah nyari mobil angkut hingga ke atas. Kalau belum penuh tidak mau berangkat. Ongkosnya Rp 8.000 per orang, pulang pergi. Tapi klo udah jam segini dah sepi, kalau mau charter. Biasanya charter, jatuhnya Rp 100.000 bolak balik.

Subhanallah

Subhanallah

Sebenernya kita hampir berhasil menawar sopir angkot itu Rp 100.000. Tapi setelah dipikir-pikir, kita memutuskan untuk melihat kondisi dulu. Toh, kita insyaAllah masih mempunyai hari besok.

Saat itulah, datang mas Agus…jreng jreng jreng. Sopir mobil angkut ke kawah putih. Bagi orang lain, mas Agus dikenal karena dahinya yang lebar, alias sedikit botak. Tapi aku terkesan oleh kacamatanya yang ’silauuuu’. Dia menawari kita dengan biaya Rp 50.000, sudah termasuk ongkos masuk.  Boleh tuhh… dapet separuh harga kan lumayan. Tapi duduknya harus di depan. Soalnya mas Agus sungkan ama mobil angkut lainnya yang sudah antri duluan. Dengan duduk di depan, berharap bisa mengelabui klo kita bukan penumpang. Sekalian dia mau jemput penumpang jam 16.00. Kita mulai menghitung, satu dua, tiga, empat.. emang cukup gitu duduk di depan? Percayalah… ternyata bisa. Tapi jangan bertanya bagaimana.

Kita sampai di kawah putih jam 15.30. Itu artinya kita cuma mempunyai waktu 30 menit. Begitu melihat kawah, mba Gama ga berhenti mengucapkan subhanallah. Tapi, indeed, indah banget. Tak bisa tergantikan oleh kata-kata. Kamera saja tidak bisa membungkus keindahan aslinya. Jadi inget beberapa waktu yang lalu mba Gama pernah bertanya, “Kita bisa turun ke kawahnya tus pegang airnya ga?”. Ya iyalah bisa…. Tapi kog hujannya makin lama makin gede? Terpaksa kita berteduh di saung. Dinginnya minta ampun. Udara dingin seperti mengiris-iris kulit telanjang kita. Kita menggigil kedinginan. Baju, celana, sepatu dan tas kita basah semua. Dengan bermodalkan satu payung, kita bergantian turun ke kawah. Hujan seakan menambah keindahan kawahnya. Warna air kawah yang biru jernih kontras dengan langit yang mendung. Titik air hujan membentuk tirai sore itu. Sayang, waktu 30 menit cepat berlalu. Setelah bernasis-nasis, jepret sana-sini, waktunya kita turun. Tapi kita, terutama mba Gama, belum puas. Kita berencana untuk kembali besok.

Freezing

Freezing

Dengan bantuan mas Agus kita berhasil menemukan penginapan yang lumayan murah, Rp 80.000. Sebenernya dengan harga segitu, di tempat lain, mungkin kita bisa memperoleh kamar dengan fasilitas yang lebih baik. Tapi cukup kalau cuma buat tidur. Jujur akuberharap semoga hari cepat berganti.Brrrr….. airnya dingin banget. Sepertinya kita cukup cuci muka saja, hehehe… toh ga keringetan ini. Tapi bau mungkin iya :p

Baru jam 17.00, mau ngapain kita? Kita bertiga langsung menyusut, rebutan selimut. Habis maghrib kita jalan mencari tempat makan. Sewaktu berangkat tadi kita sempat melihat cafe kecil yang menyuguhkan menu spesial, seperti piza, spageti.. lumayan mewah untuk daerah seperti Ciwidey, dan jagung bakar tentunya. Kata ibu yang nungguin penginapan, jaraknya jauh, kurang lebih 5 km ke atas lagi. Alamak…. mana gelap lagi. Ya sudah, kita memutuskan makan seadanya aja di warung dekat situ. Beruntungnya kita. Cafe yang kita lihat tadi, ternyata ga jauh dari situ.

Atiek memesan internet dan bandrek. Katanya sih, bandreknya enak banget. Kalau mba Gama memesan kentang dan sosis. Aku memesan lain dari yang lain, yaitu juice strawberry dan pizza strawberry. Ga salah, dingin-dingin pesan juice? Hmmm… habis enak sih, hehehe. Aku suka coba-coba, termasuk nyobain pizza strawberry yang rasanya aneh banget. Strawberrynya masih muda, jadi agak-agak kecut gitu. Rotinya manis, dilapisi selai strawberry yang juga manis. Diatasnya ditutup dengan keju. Kebayang kan gmn rasanya? Manis, gurih dan kecut. Ga lagi-lagi dech.

@ Arus Cafe

@ Arus Cafe

Pulang makan, ternyata masih jam 19.30. Apaa….? mau ngapain kita sekarang. Kita mati gaya di dalam kamar, bingung mo ngomongin apa, secara setiap hari kita sudah saling curhat. We know each other lah…. Dan ternyata diriku yang paling cepet tersuksesi. Kenyang dan hawa dingin membuatku jatuh tertidur. Kubiarkan mereka berdua ngobrol. Zzz… zzz..zz..zzzz…..

Berita Politik

•April 27, 2009 • 2 Comments

 

Beberapa hari terakhir, berita di media nasional tidak pernah absen membahas perkembangan bursa capres dan cawapres untuk pemilu Juli nanti. Tokoh partai politik sibuk melakukan lobi, komunikasi ataupun marketing politik membentuk koalisi.

 

Mulai dari bos-bos di gedung tinggi sampai sopir angkot di jalanan mulai menerka-nerka siapa saja calon pasangan capres dan cawapres yang maju. Tidak terkecuali Sujiwo Tejo, salah satu budayawan, urun bersuara. Pagi tadi dia duduk bersama-sama dengan pakar komunikasi politik Effendi Gazali, menjadi bintang tamu di acara Apa Kabar Indonesia Pagi di tvone.

 

Sebagai seorang budayawan, Sujiwo Tejo mempunyai pandangan yang menarik mengenai bursa pilpres. Dia mengaku kurang paham dengan istilah komunikasi politik maupun marketing politik. Menurutnya lobi-lobi petinggi partai politik saat ini tidak lebih dari jatah-jatahan posisi. Dia blak-blakan mengutarakan pendapatnya saat mengaku dia tidak begitu menyukai Jusuf kalla. Dia menilai Jusuf Kalla mempunyai sorot mata yang mengancam. Tapi dia buru-buru menambahkan, bahwa sikap tegas yang diambil Jusuf Kalla yang memutuskan hubungan dengan Demokrat, benar-benar merubah pandangannya 180 derajat. Dia bersimpati dengan langkah yang diambil Jusuf Kalla. Dia juga yakin banyak masyarakat yang berpikiran sama.

 

Sebagai seniman, Sujiwo Tejo juga mampu menerjemahkan bahasa tubuh Megawati. Menurutnya bahasa tubuh Megawati menunjukkan keengganan untuk maju menjadi capres. Megawati dilihatnya sudah lelah dan jenuh. Tapi arus di bawahnya, masih menginginkan Megawati tetap maju, sehingga mereka masih mempunyai pegangan.

 

Jika Sujiwo Tejo mampu menilai seseorang dari sorot mata dan bahasa tubuh, ibu-ibu juga mempunyai penilaian sendiri terhadap capres. Pemilu empat tahun yang lalu, SBY menyedot perhatian ibu-ibu karena kegagahannya. Tapi untuk putaran pemilu kali ini, sepertinya SBY mempunyai saingan yang setara, yaitu Prabowo. Kita liat saja nanti… :p

 

Jika Aku Menjadi Pak Urip

•April 26, 2009 • Leave a Comment

Dear Di,

Sudah sering aku melihat ‘Jika Aku Menjadi’ dan sudah sering pula aku menangis dibuatnya. Kali ini aku menangis semakin menjadi. Episode minggu ini mengisahkan kehidupan pak Urip di sudut kota CIrebon. Cirebon hanyalah sebuah kota kecil dibandingkan Jakarta. Tapi yang namanya kemiskinan ada dimana-mana, termasuk di Cirebon.

Pak Urip adalah seorang pemulung sampah dengan bayaran 180 ribu sebulan. Apa yang bisa kamu beli dengan uang segitu? Mungkin sepasangan sandal baru. Tapi bagi pak Urip, uang sejumlah itu harus bisa mencukupi kebutuhan keluarganya sebulan.

Orang yang sehari-hari melakukan hal yang paling tidak ingin dilakukan oleh orang lain, memilah-milah sampah menjijikkan, yang becek, bau, dan penuh belatung. Tapi justru memperoleh bayaran sangat minim.

Dengan bayaran segitu, pak Urip masih menangung beban hutang sebesar 1,5 juta. Bayangkan, dengan uang 180 ribu, pak Urip harus mencari pekerjaan sambilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dari mana dia memperoleh tambahan penghasilan untuk membayar hutangnya? Uang 1,5 juta bukanlah ukuran yang besar bagi sebagian kita. Itu hanya seperberapa dari pendapatan kita sebulan. Tapi bagi beberapa orang di luar sana, mereka bahkan belum pernah melihatnya atau bahkan membayangkannya.

Aku mungkin manusia yang paling egois, karena dengan melihat kondisi pak Urip, aku justru merasa bersyukur. Aku lebih beruntung dari beliau, karena aku tidak perlu bekerja memunguti sampah untuk makan. Apakah aku terus membutuhkan sosok seperti pak Urip untuk sekedar mengingatkanku akan rasa syukur?

A confession of an introvert person

•April 6, 2009 • Leave a Comment

I don’t need to take a test to get to know my personality type. I and other person already know that I am an introvert person. Based on general definition, introversion is the tendency to focus one’s attention towards the inner, mental world rather than external, physical “reality”. Introvert person are usually reserved, have quite energy, feel comfortable being alone, become preoccupied with their own world, listen more than talk, have good concentration and prefer to work ‘behind-the-scene’. Those belong to me.  

I fully understand that those are my strength and my weaknesses as well, and I keep on my pace to make it balanced. One thing I cannot manage is I like being alone, but not lonely. I do it sometimes. I am just sitting in my room, looking into sky or listening to music. It’s just me, my thought and no interaction with others. I divine into my deepest soul and usually come up with numerous questions. In the silence with limited activity, I can uncover the answer one by one.

At that moment I was in the zero position, full of consciousness. It’s just me and my ego, the basic thing that every human being has. How well I know myself? How far I could be honest to myself? How I will compromise with my ego related to problems and reality I face every day. Am I brave enough to conquer my ego? Or am I dare enough to admit that I was been manipulated by my ego? It’s a kind of introspection phase when I find out that I have done several things which I didn’t need to. What a silly I am, but nothing to be regret. Regret will not change the past. The most important thing is how not to make a similar mistakes in the future.

That’s something I don’t get when I have discussion with my friends. Intensely or not, people will bring their ego to defend themselves. No one will deny that there is little part of her/him does not like to accept critics. That’s way I would rather find myself to be alone.

Girlfriend vs. Friends

•April 6, 2009 • 1 Comment

Which one is the most important to you? Is it your friends or your boy/girl friend? Some people cannot decide since both of them are important. Some say that it’s depends on the situation. But, mostly people place their friends first before their boy/girl friends with a couple reasons which are:
- Your friends will accept you whatever you are
You can act whatever you like in front of them. They already know how ghastly and crazy you can be. While with your boy/girl friend you need to a little behave or ‘jaim’. You cannot fart whenever she/he is near or you will make him/her disregard you or get ‘ilfil’.
- Friends are difficult to find
True friends will accept how bad you are, they will cheer you up when you are sad, they will support you when you are down and it not easy to find friends like them. With them, you can do many crazy things together.
In the other hand, it’s not so hard to get a girl friend, just ask the girl you have crushed into. Or you can join reality show ‘katakan cinta’ to declare your love to someone you like. If you are rejected, so you need to set the new target then, he3x
- Friendship is forever
Commonly we hear the word ‘ex-girlfriend’ or ‘my ex-boyfriend’, but there is no term of ‘ex-friends’.

How about you? Do you agree with that? Before answer it, it’s better to check several questions below:
1. Do you have a boy/girl friend?
2. How many friends do you have?
3. How much time do you spend with your friends?
4. How many friends of yours that have a boy/ girl friend?
Those questions will help you to get a clear and more objective answer.

Your friends frequently ask you to hang out with them on the weekend since they don’t have boy/ girl friends or ‘jomblo’. Sooner or later they will have a boy/ girl friend. When that time come, how often they will call and ask you to go out together? Or they have been already busy with their boy/girl friend? Please find the answers by yourself.

In case, you have planned to go out with your buddies on the weekend but suddenly your girl friend ask you to come having dinner. What would you do? If you refuse your girl friend request, she must certain will get upset or ‘gambek’ and it could last for a week. But, you have promised to your friends you will make it. Difficult, huh?

What will you respond if you are his girl friend or one of his pack? As his friend, you will feel happy if he is happy. Thus, you can tolerate him to have fun with his girlfriend; still you can go out next time. If you understand your boy friend situation, you will not force him. You realize that you are not his central attention. He indeed has personal life. But the much much better is when you have a girl friend that can be their friend also. So, you can hang out together and spent the time together. You have a life to share with.

Easy to say… but can you manage it?

I am not an option

•April 6, 2009 • Leave a Comment

Life is an option. We make decision for everything we take. When we wake up in the morning, we should decide to silent the alarm then go back to sleep for about 10 minutes or straightly wake up. Next, we need to make decision which clothes we will put on. On the street, we see traffic jam ahead so we have to take alternate ways to get to the office on time. Every single minute we make decision among several options, for simple matters or for the very complex ones. And each decision comes up with its consequences. If we choose to have a little bit more sleep, that actually just about 30 minutes late, cause us to escape breakfast. If we take a wrong dress, for instance wearing less formal suit to attend an important meeting, it will affect our mood whole day. Or maybe we take a wrong route that brings us in the middle of jam for hours.

Making decision is difficult, not only about how many options do you have, but mostly about how big it will affect you.  We rarely deliberate how it will affect others, especially those who related to options we probably choice. For instance, because of ruining time, we have to escape breakfast. We do not think about the other feeling who has prepared it.

How about if we are in that person position? Do you feel disappointed? Or do you understand the condition enough? Moreover, what will you feel if you are the one of the options? You are not the one who will make a decision, but you are the object of someone else decision. Deciding an option is difficult indeed, but being an option is distressing. Have you ever experienced it? Feeling so anxiety worried all the time. Unless, we don’t have any idea at all that we are being an option.

Aku lelaki tak mungkin menerimamu
Bila ternyata kau mendua, membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku, yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih, aku bukan pilihan

Remember that lyric? A popular song sung by Iwan False, the legendary singer in Indonesia. I am not an option. In that song, Iwan places himself as a man who cannot stand to compete with other guy winning his lover love. Be an option means that we are in the position to be compared with other person. No one likes to be judged or compared with other. Furthermore, it will feel worse if we are not the chosen one. On the other hand, we definitely get overexcited being chosen. Is that so? Is it really because we are the best among other options? I don’t think so.

It is not easy to make comparison for something that do not even equal. For example, a guy has to decide which girl he should go with. There are 2 girls and he like them both. The A one is a nice and warm girl. He feels comfortable whenever she nears. Additionally, she can get along with his family and friends. The B one, is a kind of smart girl, he can talk with her all day long, discussing everything. She is good looking also. Both of them have plusses in their particular way, and he cannot compare them apple-to-apple. What will you do if you are in that position? It’s sort of time and energy consuming, ponder it from many point of views to get the best one. And sometimes we get stacked; we don’t know what to do. Finally, we don’t choose one of them. Instead, we make a third option, which is getting a new girl. Well, it just a case.

So, being the chosen one doesn’t mean she is better. In that condition, she probably the last choice the man has. Is she lucky? Or does she deserve our sympathy? Actually, I am looking for the answer, since aku bukan pilihan. By situated so, it makes me wiser to make decision, because it’s not merely about me, but about other’s feeling as well.

White-rs alias Golput

•September 24, 2008 • 1 Comment

Topik Debat beberapa pekan yang lalu adalah kontroversi seputar golput. Setelah beberapa kali membahas polemik Ahmadiyah, tema kali ini menawarkan suasana baru. Terlebih bila dikaitkan dengan fenomena golput yang persentasenya semakin meningkat. Golput adalah sebuah pilihan. Mungkin satu diantara 34 partai yang akan dipilih pada pemilu 2009. Tapi seperti banyak orang pintar katakan golput adalah pilihan yang tidak bijak.

Definisi bijak yang dimaksud di sini seperti apa? Apakah dengan memilih satu yang tidak lebih buruk dari lainnya yang buruk bisa dikatakan bijak? Mungkin dari pertanyaan itu bisa langsung bisa dilihat keberpihakanku pada partai golput. Aku cuma tidak mau menjadi manusia munafik. Jika aku akhirnya memilih suatu partai, ternyata partai itu menduduki pemerintahan yang justru mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat, dan aku masuk dalam bagian dari suara yang menentang, apa ga lucu??? Berarti aku telah melakukan kesalahan. Daripada aku berbuat salah, lebih baik aku tidak memilih. Dan dengan tidak memilih, aku berarti telah membuat pilihan.

Apa iya dengan menghindari membuat kesalahan disebut pengecut?? Jika faktanya mayoritas memilih golput, apakah itu juga disebut fenomena pengecut? Seharusnya orang yang awalnya menuduh pengecut, mulai melihat lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi yang terlewat dari pengamatan mereka. Itu adalah suatu indikasi jelas adanya ketimpangan sistem demokrasi. Mekanismenya sudah tepat, tapi kalau pelakunya rusak, maka demokrasi hanya menjdi slogan semata. Atau sebaliknya, jika mekanisme disalahgunakan untuk kepentingan elit tertentu. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan intropeksi dalam diri demokrasi Indonesia setelah dua kali pemilu yang gagal.

Pemilu yang gagal?? Koq bisa ngomong gitu? Lha kan harga minyak naik, harga pangan naik…. Rakyat kecil tahunya cuma itu. Mereka ingat betul janji-janji kampanye dulu, yang nyatanya jauh berbeda dengan realita saat ini. Mereka tidak ambil pusing dengan penghargaan international atas bangsa Indonesia yang dinilai sukses menyelenggarakan pemilu yang demokratis. Bagi rakyat banyak urusan perut lebih penting.

Pemilu masih tahun depan, tapi beberapa partai besar sudah mulai takut suaranya disedot partai golput. Hingga muncullah statement yang tidak seharusnya keluar dari mulut salah satu calon presiden. Mereka yang memilih golput bukan warga negara Indonesia, maka mereka harus keluar dari Indonesia. Itu maksudnya ngancem Bu?

Menurutku itu baru yang namanya tidak bijak. Kalau mau mengajak orang agar tidak golput seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih anggun, lebih edukatif, komunikatif. Masak orang yang kayak gitu yang mau dipilih?

Ramadan dan Lebaran ala Indonesia

•September 23, 2008 • 3 Comments

Emang tradisi di Indonesia tidak seperti di kebanyakan negara muslim dunia. Kalau di Mesir atau Arab Idul Adha atau hari raya kurban paling heboh dirayakan, tapi di Indonesia justru hari raya Idul Fitri yang dinanti-nanti. Di luar bulan Ramadhan, masjid paling rame ketika masuk waktu magrib. Sebaliknya kalau di bulan ramadhan, sholat magrib malah paling sepi. Yang paling rame didatangi orang adalah warung atau tempat makan. Tidak ada yang mau melewatkan buka puasa. Setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga, segera setelah beduk magrib orang merayakan kemenangan dengan menyantap minuman seperti kolak, es buah, cendol terus diikuti dengan makanan lengkap seperti sate, soto, dll. Pokoknya yang enak-enak lah, kata pak Bondan mak nyuss. Walhasil, anggaran ibu-ibu rumah tangga untuk menyiapkan menu buka puasa menjadi dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Hoo… ini adalah salah satu indikasi tradisi konsumerisme.

Bulan Ramadhan terbagi ke dalam tiga fase, yaitu sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua dan sepuluh hari terakhir. Sepuluh hari pertama adalah masa yang penuh barokah, sepuluh hari kedua adalah masa penuh ampunan atau magfiroh, sedangkan sepuluh hari terakhir adalah masa Allah menurunkan rahmatnya. Pada sepuluh hari pertama orang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat tarawih berjamaah. Tapi memasuki tengah bulan, shaf di masjid menjadi bolong-bolong dan lama kelamaan menyusut. Seperti biasa, kebanyakan orang hanya semangat di awal-awal saja. Sedangkan pemandangan di pusat belanjaan menjadi semakin padat dikunjungi orang. Pada sepuluh hari terakhir, dimana diyakini oleh sebagian banyak orang sebagai masa turunnya Lailatul Qadar, orang malah sibuk menyiapkan hari raya. Ada yang begadang membuat kue, ada juga yang hunting baju lebaran.

Beberapa hari sebelum hari H, orang semakin sibuk menyiapkan keperluan untuk mudik. Sebenernya kehebohan terjadi jauh hari sebelum puasa datang. Orang cenderung pesan tiket pesawat jauh-jauh hari sebelum harganya meroket. Buat mereka yang ingin mudik naik kereta, sebulan sebelum hari keberangkatan mereka rela berdesak-desakan di depan loket untuk mengantri tiket. Dan tentu saja mereka harus bersasing dengan calo. Sedangkan sebagian yang lain lebih memilih naik sepeda motor. Bagi mereka yang memilih naik kereta, naik kereta jauh lebih nyaman dan tepat waktu dibandingkan naik angkutan darat lainnya. Memang mendekati hari lebaran jalan sepanjang pantura padat merayap, kalau tidak mau dibilang macet total. Bus-bus malam berderetan dengan ribuan motor di sela-selanya. Jarak yang biasanya ditempuh dalam 16 jam bisa menjadi 26 jam. Mereka yang memilih naik sepeda motor, beralasan jauh lebih murah dan lebih bebas. Mereka bisa berhenti kapan saja. Pemudik dengan sepeda motor biasanya bergerak dalam rombongan sesuai dengan jurusan, misalnya mereka yang hendak ke Tegal, dll. Sepeda motor yang hanya diperuntukkan untuk maskimal 2 orang, dipaksa untuk mengangkut seluruh keluarga. Bapak, ibu dan anak. Anak bisa tiga, yaitu di depan, di tengah, dan satu digendong ibunya. Itu di luar baranng bawaan. Kalau melihat perlengkapan “perang” mereka, kita pasti akan geleng-geleng kepala. Meeka cukup kreatif memodifikasi sepeda motornya agar bisa memuat banyak barang bawaan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah oleh-oleh dari Jakarta untuk sanak keluarga di kampung. Begitu juga kalau pulang, kardus yang kosong itu akan diganti dengan oleh-oleh dari kampung seperti singkong, sayuran, dll. Kondisi yang sangat tidak aman. Yang menjadi korban dari kondisi ini adalah anak-anak. Mereka belum bisa memutuskan, makanya ngikut aja apa kata orang tua. Bahaya yang mengancam, selain kecelakaan, yang mungkin terjadi adalah faktor cuaca seperti hujan, angin, dll. Bahkan saking gemesnya kak Seto mau membawa permasalahan ini ke jalur hukum agar orangtua yang tidak aware bisa ditindak. Kepolisian juga sudah memberi ultimatum tidak akan segan-segan menilang pengendara dengan barang bawaan yang berlebihan.

Bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan atau musafir, diberi keringanan untuk tidak menjalankan puasa. Tapi bukan berarti bisa seenaknya makan di tempat umum. Tapi kalau sempet melalui daerah pantura di saat mudik gini, orang makan menjadi pemandangan yang sangat bisa dimaklumi. Warung-warung makan pinggir jalan selama bulan puasa dianjurkan untuk memberi kain penutup, tapi pada saat-saat mudik orang sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Sambil istirahat mereka dengan bebas menikmati makanan. Sekali lagi itulah privilege mudik.

Biar mudik jadi lancar dan aman, pemerintah menambah armada angkutan dan memperbaiki jalur transportasi, misalnya menutup jalan berlubang, memperlebar jalan, dll. Jadi mendekati lebaran, banyak proyek-proyek semacam itu. Pertanyaannya kenapa tidak jauh-jauh hari sehingga tidak terjadi penumpukan aktivitas di bulan ramadhan? Kadang-kadang kalau belum selesai, proyek ini dapat memperparah kemacetan. Belum lagi proyek gali lubang tutup lubang, alias pemasangan kabel ini itu. Sapa yang diuntungkan? Yang pasti kuli atau tukang-tukang bangunan. Menjelang lebaran ada tambahan pendapatan, meskipun ibadah puasa digadaikan. Kerja fisik seperti itu pastinya membutuhkan energi ekstra, dan amat sangat berat jika dilakukan sambil menunaikan ibadah puasa.

Ngomongin mudik, adakah tradisi mudik di negara lain? Sepertinya hanya di Indonesia saja. Tidak ada keharusan orang untuk sungkeman, yang adalah perintah untuk saling meminta maaf. Tapi orang Indonesia paling hobi pulang kampung. Itung-itung silaturahmi, dan hanya satu tahun sekali ini. Sebenernya motifnya ga cuma silaturahmi, tapi ada sedikit unsur ‘pamer’. Si A yang sudah setahun kerja di Jakarta kini sudah bisa pulang bawa hape. Jadinya para saudara dan tetangganya jadi ngiler. Mereka jadi tertarik untuk ikut mengadu nasib di ibu kota. Inilah potensi-potensi urbanisasi. Belum lagi para TKI dan TKW. Mereka biasanya pulang dengan banyak duit, sehingga pulang-pulang bisa membeli sepeda motor. Begitu akan balik ke negeri Jiran atau Timur Tengah, sepeda motor itu akan dijual lagi.

Menjelang lebaran, budaya konsumerisme meningkat. Harga bahan pokok juga ikut-ikutan naik. Meskipun pemerintah sudah gembor-gembor bahwa pasokan sembako sudah diamankan, tetep aja harga selangit. Selain konsumerime yang merakyat, pengemis dadakan juga semakin menjamur. Merekalah yang sangat cerdas memanfaatkan momentum ramadhan, yaitu menarik infaq dan sodaqoh sebanyak-banyaknya. Di pinggir jalan, di depan loket ATM, berjejer di tempat pemakaman umum. Yup, menjelang lebaran, pemakaman ramai didatangi orang yang ingin berziarah kubur. Di negera lain memang tidak ada, ini adalah sisa-sisa tradisi yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat.

Terkait dengan desakan konsumerisme dan mudik, tingkat kriminalitas meningkat. Apa hubungannya coba? Karena adanya desakan untuk membeli baju baru, sepatu baru, dll orang menjadi semakin nekat. Mereka mencopet, menjambret, mencuri, merampok hingga tidak segan-segan membunuh. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya saja, selama bulan September ini telah terjadi lebih dari 12 kali kasus perampokan. Kejahatan selain terjadi karena ada niat, juga disebabkan karena adanya kesempatan. Selama lebaran banyak rumah yang ditinggal penghuninya mudik. Rumah inilah yang menjadi sasaran perampok. Sangat gampang untuk mengetahui rumah mana yang tidak berpenghuni, yaitu dari lampu depan rumah. Kalau lampu itu menyala sepanjang hari menunjukkan bahwa orangnya tidak ada.

Di samping tingkat kriminalitas yang meningkat, tingkat hunian hotel juga meningkat. Keluarga kaya yang ditinggal mudik pembantunya dan tidak mau repot dengan urusan rumah tangga (memasak, cuci mencuci, bersih-bersih), memilih menghabiskan liburan dengan tinggal di hotel.

Satu lagi yang sangat Indonesia adalah kebiasaan mengirimkan hantaran atau parcel. Siapa sih yang tidak ingin menerima parcel. Tapi jangan salah, di balik kiriman kue, buah, mukena, perlengkapan makan, sampai kunci mobil ada maksud lain, yaitu tidak jauh-jauh dari unsur kolusi dan korupsi. Setelah adanya larangan menerima parcel, ntah bagaimana nasib penjual parcel. Hingga saat ini KPK masih memberi keringanan dengan batasan parcel tidak lebih dari 500ribu per parcel.

Itulah lebaran dan segala tradisi di Indonesia. Unik dan sangat Indonesia. Sayangnya puasa dan lebaran tidak lagi bermakna religius dan essensial, melainkan hanya sebatas kebiasaan turun menurun.    

Jakarta Sidewalk

•September 23, 2008 • Leave a Comment

Jakarta and traffic-jam are two words that always come together. Jakarta has overloaded vehicles. In other cities, for instance Kuala Lumpur, if the number of vehicle is rising then it would come up with road development. But, there is no more space in Jakarta. High way was a brilliant idea to cope with traffic for a couple decades ago. Yet nowadays, who will guarantee there is no such jam in high way. Then govt provide other initiatives, for example the ‘three in one’ bylaw in certain road and certain timing. Let alone reduce the number of passing car, this bylaw creates an opportunity for some people to be a joke. Another initiative is bus way development. Transportation mean that cheap and convenient. Nevertheless, the limited bus availability is still a main shortcoming.

So far govt only concern on how to optimize the mass transportation utilization. Indeed, it is a short term solution. By increasing the population, the numbers of vehicles will double every year. And this problem will commence again. It is more than cultural change or habit how people deal with traffic jam.

A several time ago, bike to work movement was happening due to global warming issue. How about walk to work? quite awkward right? Actually, those habits are healthy and environmental friendly as well. So why not? Many cities in the world have succeeded it. But of course, both bike and walk to work require a proper pedestrian sidewalk, not only safe but also pleasant for walker. Does Jakarta have it? I’m not sure about that. Smaller and narrow road are not equipped with sidewalk, maybe bigger or protocol roads have it. But, how many percent in use? I’m sure it’s very very small.

The sidewalk conditions around Jakarta are miserable. Some of them are not safe for walker since so many holes within, remains of digging projects. Many sidewalks have turn into food stall, ojek basis, and other purposes. While, the pedestrians itself feel unsecure to use it and have to step down to road shoulder. Of course, it is dangerous since motorcycle get used to glide at road shoulder.

Govt need to take serious action on this issue by disciplining the outlaws. Thus, sidewalk could function like used to. If side walk are safe, convenient, wide enough and shadowy by plantation, people will turn to be active society. They would rather biking or walking than taking public transportation. In this case, we could learn from Japan or Europeans countries.