Ciwidey (lanjutan)

Sarapan murah meriah
Hari itu kita mesti bangun pagi, karena kita sudah janjian dengan mas Agus agar diantar ke kebun strawberry. Semalam ternyata belum seberapa dingin dibandingkan dengan pagi ini. Gigi kita beradu, meminjam istilahnya Atiek, gigi kita seperti menjahit. Kita malas-malasan bangun, bersembunyi dalam selimut. Tapi pagi itu sangat sayang untuk dilewatkan. Sinar matahari pagi menyilaukan, tapi udaranya masih dingin. Sssstt…. kita beneran ga mandi loh. Sambil menunggu jemputan mas Agus, kita sarapan gorengan. Enak… beda ama gorengan di kota. Kita habis lima potong, tiga teh manis dan coba tebak, total berapa rupiah? Cukup enam ribu rupiah, murah meriah kan??
Pagi itu kita menjadi pengunjung pertama di kebun strawberry. Ibu yang menjaga kebun malah belum bersiap-siap. Baru jam 07.00 pagi, ya iyalah… Pagi itu pemandangan di lereng perbukitan Ciwidey sangat indah. Sinar matahari pagi membiaskan embun-embun, membuatku tak mau melepaskan pandangan. Semburat emas menutupi perbukitan.
Mba Gama langsung kalap ingin memetik begitu melihat buah strawberry yang ranum kemerahan. Dari kita bertiga, dia yang paling semangat. Sayang, pagi itu Atiek dapat telpon dari kantornya. Ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang berhubungan dengan print out. Seperti yang bisa dibayangkan, hasil petikan mba Gama yang paling banyak. Dari kita bertiga terkumpul 1,5 kg. Satu kg-nya Rp 30.000. Mahal memang dibandingkan di tempat lain. Dengan Rp 10.000 kita bisa saja dapat 1 kg. Tapi lebih puas kalau bisa memilih dan memetik sendiri.
Pukul 07.30. Dari kebun strawberry, perjalanan kita teruskan ke kolam pemandian air panas di Cimanggu. Beberapa km lebih jauh dari kawah putih. Ongkosnya cukup Rp 2.500 per orang. Masih sepi, kita berharap belum banyak pengunjung, sehingga kita dapat berendam sepuasnya. Secara kita belum mandi dari kemarin sore. Ongkos masuknya Rp 6.500 per orang. Selain kolam, di tempat itu juga disediakan cottage, flying fox dan out bond. Kolam air panasnya sendiri ada tiga dengan tingkat kedalaman yang berbeda-beda. Buat mereka yang menghendaki privasi, disediakan juga pemandian tertutup, bentuknya seperti kamar mandi dengan bath up. Suasananya agak suram. Tiap orang dikenai Rp 5.500. Kolamnya berwarna hijau dan tidak terlalu hangat juga. Sepertinya bukan karena kolamnya ditumbuhi lumut, tapi memang airnya yang berwarna hijau. Kondisi ini membuat kita malas nyemplung. Kita cuma memasukkan kaki. Setitik kehangatan di dinginnya ketinggian Cimanggu. Alasan lainnya, kita melihat ada beberapa anak yang mandi di kolam itu. Mandi dan keramas lebih tepatnya. Tapi lebih realnya, who knows??

Letsgokemon... kita habiskan strawberry-nya
Setelah puas onkang-onkang kaki selama kurang lebih satu jam, dan jepret sana sini, akhirnya kita meneruskan perjalanan. Kita sepakat untuk kembali mengunjungi kawah putih. Dari Cimanggu ke kawah putih kita hanya perlu membayar angkot Rp 1.000 per orang. Seperti biasa di depan papan nama, kita bernasis-nasis sedikit. Action…

@ Kolam Cimanggu
Kita bertiga bertanya-tanya, akankah kita bertemu kembali dengan mas Agus? Dan ternyata iya, masih dengan kaca matanya yang keren abitz itu
. Kita mesti bersabar menunggu rombongan lain hingga mencapai 14 orang untuk menghemat ongkos ke atas. Kalau mencharter mobil, biayanya Rp 100.000. Mahal. Kalau naik ojek, pulang pergi biayanya Rp 25.000, tiga orang jadi Rp 75.000. Mahal. Dasar backpacker kere…….
Ada serombongan ibu-ibu, sepertinya ibu-ibu dari majelis taklim. Subhanalllah, mereka memutuskan jalan kaki ke atas. Kita yang masih muda-muda, dibuatnya malu. Tapi kog lama ya nunggu yang lain…. ?
Hampir setengah jam kita menunggu, sampai-sampai semua sopir dan ojek di tempat itu mengenali kita. Akhirnya kita menyerah. Kita nekat mau nebeng mobil saja. Jurus terakhir, muka tebal. Semua mobil yang lewat selalu penuh. Hmmm… bersabar. Kita melihat ada elf yang parkir. Tapi penumpangnya malah ke toilet. Jangan-jangan mereka cuma numpang buat pipis. Daripada kelamaan, mending kita yang jemput bola dan bertanya.
Malu bertanya, sesat, eh ga dapat jalan. Akhirnya kita dapat tempat di elf tersebut. Isinya bapak-bapak semua. Mereka begitu baik memberi tempat buat kita di kursi belakang. Mereka orang Jakarta juga, orang Kelapa gading yang sedang merayakan berakhirnya masa jabatan ketua RW. Alhamdulillah, kali ini kita dapat gratisan.
Kita sampai di kawah putih jam 09.00. Masih sepi dan mentari sedang terik-teriknya. Mba Gama ga berhenti berhenti mengambil gambar, tentunya aku dan Atiek yang menjadi objeknya. Tapi aku sedang tidak ingin difoto. Yang kuinginkan hanyalah duduk memandangi keindahan sekeliling untuk selamanya kurekam dalam benak. Meresapi setiap sentuhan-Nya di muka bumi. Dan keindahan itu ada.
Jam 11.00, waktunya kita bergegas pulang. Tapi sebelumnya kita menikmati jagung bakar yang belum sempet dilakukan semalem. Bonusnya satay strawberry lapis coklat. So yummy…. Setelah kenyang, kita bingung. Loh… ??? Iya, bingung gimana caranya turun. Semua angkot sudah penuh dengan penumpang. Mau bareng dengan elf tadi, kayaknya ga deh. Malu lah…. Sampai kapan ya? pasti waktu itu wajah kita memeas banget. Alhamdulillah, kita dapat tumpangan angkot ke bawah. Awalnya bapak sopir meminta bayaran Rp 10.000 per orang. Tapi kita berhasil nego Rp20.000 untuk tiga orang. “Mangga atuh neng…” kata sopirnya. Sip lah pak… kita bertiga langsung meloncat masuk. Tapi busyet dah… bapaknya ngebawain angkotnya ga aturan. Kita bertiga di belakang terpental ke sana-kemari. Tiap orang mencari pegangan sendiri-sendiri. Seperti off road aja. Ya mo gimana lagi… kita juga bayarnya separuh harga. Jadi keselamatan juga dihargai separuh. Truly backpacker lah….

Begini gayanya...
Alhamdulillah kita sampai di bawah dengan utuh. Tapi Atiek merasa agak pening. Tapi memang sudah waktunya makan siang. Sepertinya siomay atau batagor enak juga. Sekedar pengganjal perut. Setelah kenyang, kita menunggu kembali angkot kuning kesayangan yang akan mengantar kita sampai ke terminal Ciwidey.
Pulangnya ke Bandung kita naik bus, soalnya elfnya belum ada. Kulihat jam, sudah jam 12.30. Kalau kata anak kemarin benar, jangan-jangan kita sampai di Bandung jam 15.30. lama pisan… Tapi mau gimana lagi?? Apakah ada pilihan lain. Oh iya, ongkosnya Rp 5.000 per orang. Siang itu sangat panas dan bus penuh sesak. Duduk kita terpisah. Namun demikian, kantuk itu tetap menyerang. Di tengah teriknya matahari dan keringat yang bercucuran di punggung, aku jatuh terlelap. Sewaktu bangun, ternyata sudah sampai Soreang. Berarti sudah deket Bandung.
Kita sampai di terminal Leuwi Panjang jam dua lewat. Berarti tidak terlalu lama juga. Segera kita mencari mushola untuk sholat. Mushola yang ini lebih mendingan daripada yang kemarin. Setelah membeli oleh-oleh, kita langsung mencari bus MGI, jurusan bandung Depok. Alhamdulillah kita tidak perlu menunggu lama, karena busnya sudah penuh. Sekali lagi kita terpisah. Ternyata permasalahan di kantor Atiek belum kelar. Sepanjang perjalanan di bus dia terus menelpon. Sedangkan aku…. tidur lagi. Dasar pelor, wekekekkkeee… Enak juga naik bus MGI. Dengan membayar Rp 45.000 kita bisa turun di kolong, trus tinggal jalan atau naik angkot sebentar, sampailah di Mekar 22. Dan di sinilah perjalanan ini berakhir.

We were there
Capek sih… tapi a lot of fun. So… what is the next destination? Route 1 : accomplished. We are ready for more adventurous backpacker.

